Posisi dan Proyeksi

 

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 LATAR BELAKANG
Dalam rangka pembangunan wawasan kesehatan sejalan dengan visi dan misi “ Indonesia Sehat Tahun 2010” dibutuhkan tenaga kesehatan yang berkualitas dan professional yang dapat berperan sebagai pemikir, perencana, penggerak dan pelaksana pembangunan kesehatan yang memadai baik dalam jenis, jumlah dan jenjang pendidikannya. Salah satu jenis tenaga kesehatan yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan khususnya dalam upaya pelayanan kesehatan saat ini adalah radiograper yang menangani bidang imaging diagnostic dan radioterapi.
Radiograper merupakan sumber daya manusia atau salah satu tenaga kesehatan yang diberi tugas, wewenang dan tanggung jawab oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan radiografi dan imejing pada unit pelayanan kesehatan dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Radiographer diharapkan dapat mengoperasionalkan semua peralatan yang ada di bidang radiodiagnostik untuk menghasilkan gambaran atau radiograf yang berkualitas dalam menegakkan diagnosa. Dalam hal ini, Akademi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO) Bali berperan sebagai pencetak tenaga-tenaga terampil yang professional juga merupakan tempat untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya sebagai dasar untuk menjadi radiograper yang berkualitas. Sebagai radiograper yang professional harus mengetahui, memahami dan menguasai dasar-dasar teknik radiografi yang benar, dimana setelah memasuki dunia kerja kita dapat melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai radiograper dengan penuh tanggung jawab. Teknik-teknik dasar radiographer yang dimaksud adalah tentang pemposisian pada pasien dan objek, begitu juga tentang proyeksi saat melakukan pemeriksaan.
Proyeksi dalam radiografi mengacu pada arah pusat sinar atau central ray saat keluar dari tabung sinar –x dan menembus objek hingga diterima image reseptor atau film.
Pemposisian dalam radiografi mengacu pada bagaimana posisi pasien secara keseluruhan dan bagaimana posisi objek yang akan di lakukan pemeriksaan radiografi untuk menegakkan diagnosa.

1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka masalah yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah “Apa Dan Bagaimanakah Pemposisian Pasien Dan Objek Serta Proyeksi Saat Melakukan Pemeriksaan Radiografi Dengan Sinar-X untuk Menegakkan Diagnosa ? “

1.3 TUJUAN PENULISAN
Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan ini adalah :
a. Untuk mengetahui atau memahami tentang pemposisian pasien dan posisi objek serta proyeksi di dalam melakukan pemeriksaan radiografi dengan sinar-x untuk menegakkan diagnosa.
b. Untuk menyelesaikan tugas Teknik Radiografi Dasar I tentang pemposisian dan proyeksi dalam melakukan pemeriksaan radiografi dengan sinar-x untuk menegakkan diagnosa.

1.4 MANFAAT PENULISAN
Manfaat atau kegunaan dari penulisan ini ada dua yaitu secara teoritis dan praktisi, yaitu :
a. Secara Teoritis
Secara teoritis penulisan ini dapat menambah referensi dan pemahaman tentang proyeksi dan pemposisian pasien serta objek yang akan di periksan dengan sinar-x dalam menegakkan diagnosa.
b. Secara Praktisi
Secara praktisi dalam penulisan ini dapat memberikan gambaran tentang proyeksi dan pemposisian pasien atau objek yang akan di periksa dengan sinar-x dalam menegakkan diagnosa.

BAB II LANDASAN TEORI


2.1 PENGERTIAN TEKNIK RADIOGRAFI
Teknik radiografi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bagaimana tata cara pemeriksaan dengan menggunakan sinar-x untuk menghasilkan gambaran bagian anatomi tubuh untuk menegakkan diagnosa.

2.1.1 Istilah Bagian Tubuh Dalam Posisi Normal
• Anterior dan ventral : Bagian depan tubuh
• Caudal, Caudad, dan inferior : bagian yang jauh dari kepala
• Central : bagian pusat tubuh
• Centralateral : bagian yang berlawanan dengan bagian tubuh lainnya.
• Cranial, cephalis dan superior : bagian yang mengarah ke kepala
• Deep : bagian yang jauh dari permukaan tubuh
• Distal : bagian yang jauh dari pusat tubuh
• External : bagian luar tubuh
• Internal : bagian dalam tubuh
• Ipsilateral : bagian tubuh yang sama dengan bagian tubuh lainnya.
• Lateral : sisi samping tubuh.
• Medial dan mesial : bagian tengah tubuh
• Peripheral : bagian yang dekat dengan permukaan tepi atau di luar bagian tubuh
• Plantar : telapak kaki
• Palmar : telapak tangan
• Posterior dan dorsal : punggung bagian tubuh
• Proximal : bagian yang dekat dengan pusat tubuh (awal)
• Superficial : daerah atau bagian yang dekat dengan permukaan kulit (permukaan)

Gambar 1. Istilah Bagian Tubuh

2.1.2 Istilah Bagian Tubuh Dilihat Dari Garis Yang Memotong Tubuh
• Median Sagital Plane yaitu bidang longitudinal yang dibuat dengan memotong dari depan ke belakang yang membagi tubuh menjadi bagian kiri dan kanan.
• Median Coronal Plane yaitu bidang longitudinal yang dibuat dengan memotong menurut panjang dari tepi ke tepi melalui kepala dan badan, dimana garis ini membagi tubuh menjadi depan dan belakang
• Horizontal Plane yaitu garis yang memotong atau membagi tubuh secara horisontal dimana akan membentuk tubuh bagian atas dan bawah.
• Oblique Plane yaitu garis yang memotong tubuh di antara sagital dan coronal yang membentuk sudut atau kemiringan.




Gambar 2. Istilah Bagian Tubuh Menurut Garis Potong
2.1.3 Perbedaan Radiografi Dengan Fotografi
Perbedaan radiografi dengan fotografi adalah :
Dari segi Radiografi Fotografi
Sumber sinar Menggunakan sinar-x Menggunakan sinar biasa
Proses Menggunakan sinar-x menembus objek kemudian di tangkap oleh film Menggunakan lensa untuk menangkap cahaya yang di pantulkan obyek dan diteruskan ke film
Peralatan Lebih besar dan relative lebih rumit Lebih sederhana
Hasil gambar Gambar negative Gambar positif

2.1.4 Tujuan Radiografi
Tujuan kita melakukan pemeriksaan radiografi dengan menggunakan sinar-x adalah :
a. Untuk mengetahui adanya fraktur atau rude fiksasi
b. Untuk mengetahui adanya dislokasi atau luksasi
c. Untuk mengetahui adanya corpus alienum atau logam.
d. Untuk mengetahui adanya kelainan patologis atau kelainan yang timbul karena penyakit, seperti : tumor, kanker dan kelainan pada tulang.

2.1.5 Persiapan Radiografi
Sebelum melakukan pemeriksaan radiografi kita perlu melakukan suatu persiapan pemeriksaan. Persiapan radiografi ada 2 yaitu :
a. Persiapan pasien
Pasien harus dibebaskan dari logam yang menempel pada objek yang akan dilakukan pemeriksaan dengan sinar-x agar tidak mempengaruhi gambaran yang akan dihasilkan.

b. Persiapan Alat dan Bahan
Sebelum melakukan pemeriksaan radiografi kita harus mempersiapkan alat dan bahan seperti :
– Pesawat sinar – x.
– Kaset dan film disesuaikan dengan objek yang akan di periksa.
– Marker : merupakan suatu penanda atau kode yang di gunakan untuk menandai objek bagian mana yang di periksa. Biasanya marker yang di gunakan berupa huruf atau angka. Umumnya marker yang di gunakan R (untuk menandakan objek yang di periksa sebelah kanan) dan L ( untuk menandai bahwa objek yang di periksa sebelah kiri).
– Load pembagi merupakan suatu alat yang digunakan untuk membagi film menjadi dua agar film yang tidak di pakai tidak terkena hamburan sinar-x.
– Alat fiksasi : merupakan alat Bantu yang berfungsi untuk mencegah adanya pergerakan pada objek yang akan di periksa dengan sinar – x. alat fiksasi seperti : sand bag (kantong pasir), busa.

2.2 PENGERTIAN PEMPOSISIAN
Pemposisian pada saat melakukan pemeriksaan radiografi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu : posisi pasien dan posisi objek.

2.2.1 Istilah Pemposisian pada pasien
Posisi pasien adalah posisi pasien secara keseluruhan pada saat di lakukan pemeriksaan dengan menggunakan sinar-x atau pada saat dilakukan pemotretan (pengambilan gambar). Adapun posisi pasien saat melakukan pemotretan atau pengambilan gambar dalam pemeriksaan radiografi antara lain :

• Up Right : posisi pasien berdiri atau searah dengan garis vertical.

Gambar 3. Posisi Normal Tubuh
• Recumbent : posisi pasien tidur dengan beberapa posisi
– Prone : posisi pasien tidur telungkup

Gambar 4. Recumbent dalam Posisi Prone
– Supine : posisi pasien tidur tengadah

Gambar 5. Recumbent dalam Posisi Supine
– Lateral : posisi pasien tidur miring tegak lurus dengan kaset

Gambar 6. Recumbent dalam Posisi Lateral
• Tendelenburg : posisi pasien tidur dimana kaki lebih tinggi dari kepala.

Gambar 7. Posisi pasien Tendelenburg
• Powler : posisi pasien tidur dimana posisi kaki lebih rendah dari kepala.

Gambar 8. posisi powler

• Litotomy : posisi pasien tidur tengadah seperti orang melahirkan.

Gambar 9. posisi litotomy

2.2.2 Istilah Pemposisian pada Objek Pemeriksaan
Posisi objek adalah posisi pasien pada sebagian tubuh pada saat di lakukan pemeriksaan dengan menggunakan sinar-x atau pada saat dilakukan pemotretan (pengambilan gambar). Adapun posisi objek saat melakukan pemotretan atau pengambilan gambar dalam pemeriksaan radiografi antara lain :
 Fleksio : gerakan melipat sendi.

 Ekstensio : gerakan membuka sendi.

 Endorotasi : gerakan memutar ke dalam.

 Eksorotasi : gerakan memutar ke luar.
 Adduksi : gerakan merapat ke tubuh.

 Abduksi : gerakan menjauh dari tubuh.
 Eversion : gerakan memutar ke luar atau lateral

 Inversion : gerakan memutar ke dalam atau medial
 Inspirasi : gerakan menarik nafas.

 Ekspirasi : gerakan mengeluarkan nafas.

2.3 PENGERTIAN PROYEKSI
Proyeksi mengacu pada arah pusat sinar central ray (CR) saat keluar dari tabung sinar – x dan menembus objek hingga sampai image reseptor (film).

2.3.1 Macam-Macam Proyeksi
• Anteroposterio : posisi pasien bisa berdiri (erect position) atau tidur (supine position) dimana bagian belakang dari tubuh menempel pada bidang kaset dan bagian depan menghadap datangnya arah sinar, arah sinar (central ray) tegak lurus terhadap bidang kaset.

Gmb. 16 Proyeksi Anteroposterior (AP)
• Posterioanterior : posisi pasien bisa berdiri (erect position) atau tidur (supine position) dimana bagian depan dari tubuh menempel pada bidang kaset dan bagian belakang dari tubuh menghadap datangnya arah sinar, arah sinar (central ray) tegak lurus terhadap bidang kaset.

Gmb. 17 Proyeksi Posterioanterior (PA)
• Lateral : posisi pasien bisa berdiri (erect position) atau tidur (supine position) dimana bagian lateral kiri dari tubuh menempel pada bidang kaset dan bagian lateral kanan dari tubuh menghadap datangnya arah sinar, begitu sebaliknya kalau bagian lateral kanan dari tubuh menempel pada bidang kaset maka bagian lateral kiri dari tubuh menghadap datangnya arah sinar, arah sinar (central ray) tegak lurus terhadap bidang kaset.

Gmb. 18 Proyeksi Lateral
• Tangential : suatu posisi untuk mengambil gambaran pada permukaan tubuh dimana central ray pada permukaan obyek yang akan di periksa.

Gmb.19 Proyeksi Tangential

• Axial : pengambilan gambar dengan arah sinar atau central ray membentuk sudut.

Gmb. 20 Proyeksi Axial
• Oblique :
1. RAO (Right Anterior Oblique) : arah sinar tegak lurus terhadap bidang kaset dimana bagian anterior kanan menempel atau dekat dengan kaset.

Gmb. 21 Proyeksi Right Anterior Oblique (RAO)
2. LAO (Left Anterior Oblique) : arah sinar tegak lurus terhadap bidang kaset dimana bagian anterior kiri menempel atau dekat dengan kaset.

Gmb. 22 Proyeksi Left Anterior Oblique (LAO)
3. RPO (Right Posterior Oblique) : arah sinar tegak lurus terhadap bidang kaset dimana bagian posterior kanan menempel atau dekat dengan kaset

Gmb. 23. Proyeksi Right Posterior Oblique (RPO)
4. LPO (Left Posterior Oblique) : arah sinar tegak lurus terhadap bidang kaset dimana bagian posterior kiri menempel atau dekat dengan kaset.

Gmb. 24 Proyeksi Left Posterior Oblique (LPO)

• Decubitus
1. Dorsal Decubitus : pasien berbaring terlentang atau supine pada meja radiografi dengan arah sinar atau central ray horizontal terhadap lantai.

Gmb.25 Dorsal Decubitus
2. Ventral Decubitus : pasien berbaring telungkup atau prone pada meja radiografi dengan arah sinar atau central ray horizontal terhadap lantai.

Gmb.26 Ventral Decubitus
3. Lateral Decubitus : lateral decubitus ada dua yaitu lateral Decubitus Kiri (LLD) dimana pasien berbaring pada sisi kiri dengan sisi kanan di atas, dan Lateral Decubitus Kanan (RLD) pasien berbaring pada sisi kanan dan bagian kiri di atas. Untuk central ray atau arah sinar horizontal terhadap lantai menembus pasien dari arah anterior ke posterior.

Gmb.27 Lateral Decubitus

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 PROYEKSI ANTERIOPOSTERIOR ( AP )
Anteroposterio : posisi pasien bisa berdiri (erect position) atau tidur (supine position) dimana bagian belakang dari tubuh menempel pada bidang kaset dan bagian depan menghadap datangnya arah sinar, arah sinar (central ray) tegak lurus terhadap bidang kaset.
a. Proyeksi dan posisi pada pemeriksaan Pedis AP
Posisi pasien diposisikan tidur tengah (supine). Kaki difleksikan dan telapak kaki menghadap meja pemeriksaan. Posisi obyek : Telapak kaki menempel pada kaset. Kaset horizontal diatas meja pemeriksaan. Focus Film Distance (FFD) : 90 – 100 cm, Central Ray (CR) vertikal / tegak lurus terhadap bidang kaset, Central Point (CP) terletak pada Metatarsal digiti 3.

Gambar 28. Foto Pedis dengan proyeksi AP
Kriteria gambar : Tampak gambaran AP dari ossa metatarsal, ossa phalanx, ossa tarsal

b. Proyeksi dan posisi pada pemeriksaan pada Pedis dengan proyeksi AP Axial
Posisi pasien diposisikan tidur tengah (supine). Kaki difleksikan dan telapak kaki menghadap meja pemeriksaan. Posisi obyek : Telapak kaki menempel pada kaset. Kaset horizontal diatas meja pemeriksaan. Focus Film Distance (FFD) : 90 – 100 cm, Central Ray (CR) 10º (ke arah os calcaneus), Central Point (CP) terletak pada Metatarsal digiti 3.

Gambar 29. Foto Pedis dengan proyeksi AP Axial
Kriteria gambar : Tampak gambaran AP dari ossa metatarsal, ossa phalanx, ossa tarsal

c. Proyeksi dan posisi pada pemeriksaan pada Pedis dengan proyeksi AP Oblique Dengan Lateral Rotation
Pasien diposisikan tidur tengadah (supine). Kaki difleksikan, telapak kaki menghadap meja pemeriksaan. Posisi obyek : Kaki diendorotasikan membentuk sudut 30º terhadap bidang kaset pada sisi lateral. Focus Film Distance (FFD) : 90 – 100 cm, Central Ray (CR) : Vertikal / tegak lurus terhadap bidang kaset, Central Point (CP) : Metatarsal digiti 3.

Gambar 30. Foto Pedis dengan proyeksi AP Oblique dengan Lateral Rotation
Kriteria gambar tampak gambaran AP oblique pada daerah ossa phalanx, ossa metatarsal. Tampak persendian os cuneiform medial dan intermedial.

d. Proyeksi dan posisi pada pemeriksaan pada Pedis dengan proyeksi AP Oblique Dengan Medial Rotation
Pasien diposisikan tidur tengadah (supine). Kaki difleksikan, telapak kaki menghadap meja pemeriksaan. Posisi obyek kaki diendorotasikan membentuk sudut 30º terhadap kaset pada sisi medial. Focus Film Distance (FFD) : 90 – 100 cm, Central Ray (CR) : Vertikal / tegak lurus kaset, Central Ray (CP) : Metatarsal digiti III.

Gambar.31. Foto Pedis dengan proyeksi AP Oblique dengan Medial Rotation
Kriteria gambar : tampak gambaran AP oblique pada daerah ossa phalang, ossa metatarsal. Tampak persendian os cuboideum dan os calcaneus serta daerah persendian os cuneiform lateral.

3.2 PROYEKSI POSTERIOANTERIOR ( PA )
Posterioanterior : posisi pasien bisa berdiri (erect position) atau tidur (supine position) dimana bagian depan dari tubuh menempel pada bidang kaset dan bagian belakang dari tubuh menghadap datangnya arah sinar, arah sinar (central ray) tegak lurus terhadap bidang kaset.

a. Proyeksi dan posisi pada pemeriksaan pada Toes PA
Pasien diposisikan tidur telungkup (prone) dengan bagian dorsal aspect dekat dengan kaset, Posisi obyek bagian dorsal dari kaki menempel pada bidang kaset. Focus Film Distance (FFD) : 90 – 100 cm, Central Ray (CR) adalah Vertikal / tegak lurus kaset, Central Point (CP) terletak pada Metatarsophalangeal joint digiti III.

Gambar 32. Foto Toes dengan proyeksi PA
Kriteria Gambar : tidak ada rotasi phalanges, interphalangeal dan metatarso phalangeal, joint space terbuka, toes terpisah antara satu dan lainnya, tampak bagian distal metatarsal, soft tissue dan trabecular detail.

b. Proyeksi dan posisi pada pemeriksaan Wrist Joint PA
Pasien di posisikan duduk di samping meja pemeriksaan dengan tangan di pleksikan. Posisi objek bagian anterior dari tangan dekat dengan bidang kaset.. Focus Film Distance (FFD) : 90 – 100 cm, Central Ray (CR) adalah Vertikal / tegak lurus terhadap bidang kaset, Central Point (CP) terletak pada pertengahan wrist joint atau middle carpal atau pergelangan tangan..

Gambar 33. Foto Wrist Joint dengan Proyeksi PA
Kriteria Gambaran (KG) : tampak tulang-tulang carpal dan 1/3 distal radius dan ulna.

c. Proyeksi dan posisi pada pemeriksaan Wrist Joint PA Oblique
Pasien di posisikan duduk di samping meja pemeriksaan dengan tangan di pleksikan. Posisi objek bagian anterior pada sisi medial dari tangan dekat dengan bidang kaset.. Focus Film Distance (FFD) : 90 – 100 cm, Central Ray (CR) adalah Vertikal / tegak lurus terhadap bidang kaset, Central Point (CP) terletak pada pertengahan wrist joint atau middle carpal atau pergelangan tangan..

Gambar 34. Foto Wrist Joint dengan Proyeksi PA Oblique
Kriteria gamb. : tampak tulang-tulang carpal, terutama os. Scapoid dan trapezium.

d. Proyeksi dan posisi pada pemeriksaan Wrist Joint PA (Ulnar dan Radius Pleksi)
Pasien di posisikan duduk di samping meja pemeriksaan dengan tangan di pleksikan. Posisi objek bagian anterior dari tangan dekat dengan bidang kaset dengan bagian wrist joint di pleksikan kea rah radius atau ulna. Focus Film Distance (FFD) : 90 – 100 cm, Central Ray (CR) adalah Vertikal / tegak lurus terhadap bidang kaset, Central Point (CP) terletak pada pertengahan wrist joint atau middle carpal atau pergelangan tangan..

Gambar 35. Foto Wrist Joint dengan proyeksi PA
(Ulnar dan Radius Fleksi)
Kriteria Gambar : Tampak tulang-tulang carpal dan scapoid bebas

3.3 PROYEKSI LATERAL
posisi pasien bisa berdiri (erect position) atau tidur (supine position) dimana bagian lateral kiri dari tubuh menempel pada bidang kaset dan bagian lateral kanan dari tubuh menghadap datangnya arah sinar, begitu sebaliknya kalau bagian lateral kanan dari tubuh menempel pada bidang kaset maka bagian lateral kiri dari tubuh menghadap datangnya arah sinar, arah sinar (central ray) tegak lurus terhadap bidang kaset.

a. Proyeksi dan posisi pada pemeriksaan Wrist Joint Lateral
Pasien di posisikan duduk di samping meja pemeriksaan dengan tangan di pleksikan. Posisi objek bagian medial dari tangan dekat dengan bidang kaset.. Focus Film Distance (FFD) : 90 – 100 cm, Central Ray (CR) adalah Vertikal / tegak lurus terhadap bidang kaset, Central Point (CP) terletak pada pertengahan wrist joint atau middle carpal atau pergelangan tangan.

Gambar 36. Foto Wrist Joint Dengan Proyeksi Lateral
Kriteria Gambar : tampak tulang-tulang carpal, 1/3 tulang metacarpal dan 1/3 radisu ulna.

3.4 PROYEKSI RIGHT ANTERIOR OBLIQUE ( RAO )
RAO (Right Anterior Oblique) : arah sinar tegak lurus terhadap bidang kaset dimana bagian anterior kanan menempel atau dekat dengan kaset. Seperti contoh di bawah :
Proyeksi dan posisi pada pemeriksaan pada PA Oblique Kanan (RAO) Rib atau Tulang Costae.
Pasien di posisikan tidur telungkup (prone) atau berdiri (erect) dengan bagian anterior kanan membentuk sudut 30O dengan bidang kaset. Posisi objek bagian anterior dextra dekat dengan kaset dan membentuk sudut dengan bidang kaset. Focus Film Distance (FFD) : 150 cm, Central Ray (CR) adalah Vertikal atau horisontal / tegak lurus terhadap bidang kaset , Central Point (CP) terletak pada pertengahan costae kiri pada posisi oblique.

Gambar 37. RAO Position pada Rib PA Oblique
Kriteria gambar : tampak tulang iga atau costae kiri depan, 1/3 costae kanan depan dan tampak diapragma kiri.
3.5 PROYEKSI LEFT ANTERIOR OBLIQUE ( LAO )
LAO (Left Anterior Oblique) : arah sinar tegak lurus terhadap bidang kaset dimana bagian anterior kiri menempel atau dekat dengan kaset.contohnya seperti di bawah :
Proyeksi dan posisi pada pemeriksaan pada PA Oblique Kiri (LAO) Rib atau Tulang Costae.
Pasien di posisikan tidur telungkup (prone) atau berdiri (erect) dengan bagian anterior kiri membentuk sudut 30O dengan bidang kaset. Posisi objek bagian anterior kiri dekat dengan kaset dan membentuk sudut dengan bidang kaset. Focus Film Distance (FFD) : 150 cm, Central Ray (CR) adalah Vertikal atau horisontal / tegak lurus terhadap bidang kaset , Central Point (CP) terletak pada pertengahan costae kanan pada posisi oblique.

Gambar 38. LAO Position pada Rib PA Oblique
Kriteria gambar : tampak tulang iga atau costae kanan, 1/3 costae kiri dan tampak diapragma kanan.

3.6 PROYEKSI RIGHT POSTERIOR OBLIQUE ( RPO )
RPO (Right Posterior Oblique) : arah sinar tegak lurus terhadap bidang kaset dimana bagian posterior kanan menempel atau dekat dengan kaset. Seperti contoh di bawah :
Proyeksi dan posisi pada pemeriksaan pada AP Oblique Kanan (RPO) Rib atau Tulang Costae.
Pasien di posisikan tidur telungkup (prone) atau berdiri (erect) dengan bagian posterior kanan membentuk sudut 30O dengan bidang kaset. Posisi objek bagian posterior dextra dekat dengan kaset dan membentuk sudut dengan bidang kaset. Focus Film Distance (FFD) : 150 cm, Central Ray (CR) adalah Vertikal atau horisontal / tegak lurus terhadap bidang kaset , Central Point (CP) terletak pada pertengahan costae kanan pada posisi oblique.

Gambar 39. RPO Position pada Rib PA Oblique
Kriteria gambar : tampak tulang iga (costae) kanan bagian belakang (dorsum), 1/3 costae kanan belakang.

3.7 PROYEKSI LEFT POSTERIOR OBLIQUE ( LPO )
LPO (Left Posterior Oblique) : arah sinar tegak lurus terhadap bidang kaset dimana bagian posterior kiri menempel dengan bidang kaset. Seperti contoh di bawah :
Proyeksi dan posisi pada pemeriksaan pada AP Oblique Kanan (LPO) Rib atau Tulang Costae.
Pasien di posisikan tidur telungkup (prone) atau berdiri (erect) dengan bagian posterior kiri membentuk sudut 30O dengan bidang kaset. Posisi objek bagian posterior kiri dekat dengan kaset dan membentuk sudut dengan bidang kaset. Focus Film Distance (FFD) : 150 cm, Central Ray (CR) adalah Vertikal atau horisontal / tegak lurus terhadap bidang kaset, Central Point (CP) terletak pada pertengahan costae kiri pada posisi oblique.

Gambar 40. LPO Position pada Rib PA Oblique
Kriteria gambar : tampak tulang iga (costae) kiri bagian belakang (dorsum), 1/3 costae kanan belakang.

3.8 PROYEKSI AXIAL
Pengambilan gambar dengan arah sinar atau central ray membentuk sudut.
a. Proyeksi dan posisi pada pemeriksaan Calcaneus Axial (Plantodorsal)
Pasien diposisikan tidur tengadah (supine) atau duduk diatas meja pemeriksaan dengan kaki diekstensikan. Posisi Obyek Pedis diletakkan vertikal diatas kaset horisontal. Jari-jari kaki full ekstensi dengan ditarik kain supaya tidak superposisi dengan calcaneus.Central ray (CR) 40° Cranialli. Central point (CP) : Metatarsal III.

Gambar 41. Calcaneus Proyeksi axial (Plantodorsal)
Kriteria gambar :
Tampak gambaran axial os calcaneus terutama daerah tuberositas, sustentaculum tali dan processus trochlear.

b. Proyeksi dan posisi pada pemeriksaan Calcaneus Axial (Dorsoplantar)
Pasien diposisikan tidur telungkup (prone) diatas meja pemeriksaan. Posisi Obyek: kaki pasien diletakkan diatas tumpukan sandbag/bantal sehingga daerah plantar Os Pedis menempel pada kaset yang vertikal. Central Ray (CR) : 40° Caudally (dari arah kepala kea rah kaki), Central point (CP) : Permukaan dorsal ankle.

Gambar 42. Calcaneus Proyeksi axial (Dorsoplantar)

Kriteria gambar : Tampak gambaran proyeksi axial Os Calcaneus dan daerah subtalar joint.

3.9 PROYEKSI TANGENTIAL
Suatu posisi untuk mengambil gambaran pada permukaan tubuh dimana central ray pada permukaan obyek yang akan di periksa. Contohnya seperti di bawah ini :
Proyeksi dan posisi pada pemeriksaan Patellofemoral Joint Proyeksi Tangential
Pasien diposisikan tidur telungkup (prone) diatas meja pemeriksaan. Posisi Obyek: kaki pasien pleksikan sehingga membentuk sudut 60º dan daerah genu di letakkan di atas kaset. FFD 90-100cm, Central Ray (CR) : 45° cephalad (dari arah kaki ke arah kepala), Central point (CP) : patellofemoral joint

Gambar 43. Tangential patellofemoral joint.
Kriteria gambar : tampak patella, sendi patellofemoral terbuka dengan baik, kondilus pada femur

3.10 PROYEKSI DECUBITUS
• Lateral Decubitus
Lateral Decubitus : lateral decubitus ada dua yaitu lateral Decubitus Kiri (LLD) dimana pasien berbaring pada sisi kiri dengan sisi kanan di atas, dan Lateral Decubitus Kanan (RLD) pasien berbaring pada sisi kanan dan bagian kiri di atas. Untuk central ray atau arah sinar horizontal terhadap lantai menembus pasien dari arah anterior ke posterior.
Contoh pemeriksaan lateral decubitus seperti di bawah ini :
Proyeksi Dan Posisi Pada Pemeriksaan Thorax Lateral Decubitus
Pasien diposisikan lateral diatas meja pemeriksaan. Posisi Obyek: jika Left Lateral Decubitus (LLD) pasien berbaring pada sisi kiri dan sisi kanan di atas sedangkan Right Lateral Decubitus (RLD) pasien berbaring dengan sisi kanan dan sisi kiri di atas. FFD = 150 cm, Central Ray (CR) : horizontal terhadap lantai menuju anterior chest, Central point (CP) : pertengahan dada atau chest

Gmb. 44 Foto thorax dengan proyeksi lateral decubitus
Kriteria gambar : harus kelihatan bagian thorax dan pleural effusion tampak jelas.

• Dorsal atau Ventral Decubitus
Dorsal Decubitus : pasien berbaring terlentang atau supine pada meja radiografi dengan arah sinar atau central ray horizontal terhadap lantai.
Ventral Decubitus : pasien berbaring telungkup atau prone pada meja radiografi dengan arah sinar atau central ray horizontal terhadap lantai.
Di bawah akan di bahas mengenai dorsal decubitus yang merupakan kebalikan dari ventral decubitus. Contoh dorsal decubitus adalah :
Proyeksi Dan Posisi Pada Pemeriksaan Thorax Dorsal Decubitus
Pasien diposisikan tidur terlentang (supine) diatas meja pemeriksaan. Posisi Obyek: bagian samping dari thorax berada di tengah-tengah bidang kaset dengan tangan di lipat di atas kepala. FFD= 150 cm, Central Ray (CR) : 150cm, horizontal terhadap lantai menuju bagian lateral thorax, Central point (CP) : pertengahan thorax pada sisi samping atau lateral.

Gmb. 45 Foto thorax dengan proyeksi dorsal decubitus
Kriteria gambar : harus kelihatan bagian thorax dari samping dan pleural effusion tampak jelas.

BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan dalam makalah ini, maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut :
a. Proyeksi mengacu pada arah pusat sinar central ray (CR) saat keluar dari tabung sinar – x dan menembus objek hingga sampai image reseptor (film). Di dalam Teknik Radiografi Dasar I ada beberapa proyeksi yaitu ,
• Anteroposterio (AP) : posisi pasien bisa berdiri (erect position) atau tidur (supine position) dimana bagian belakang dari tubuh menempel pada bidang kaset dan bagian depan menghadap datangnya arah sinar, arah sinar (central ray) tegak lurus terhadap bidang kaset.
• Posterioanterior (PA) : posisi pasien bisa berdiri (erect position) atau tidur (supine position) dimana bagian depan dari tubuh menempel pada bidang kaset dan bagian belakang dari tubuh menghadap datangnya arah sinar, arah sinar (central ray) tegak lurus terhadap bidang kaset.
• Lateral : posisi pasien bisa berdiri (erect position) atau tidur (supine position) dimana bagian lateral kiri dari tubuh menempel pada bidang kaset dan bagian lateral kanan dari tubuh menghadap datangnya arah sinar, begitu sebaliknya kalau bagian lateral kanan dari tubuh menempel pada bidang kaset maka bagian lateral kiri dari tubuh menghadap datangnya arah sinar, arah sinar (central ray) tegak lurus terhadap bidang kaset.
• Tangential : suatu posisi untuk mengambil gambaran pada permukaan tubuh dimana central ray pada permukaan obyek yang akan di periksa.
• Axial : pengambilan gambar dengan arah sinar atau central ray membentuk sudut.
• RAO (Right Anterior Oblique) : arah sinar tegak lurus terhadap bidang kaset dimana bagian anterior kanan menempel atau dekat dengan bidang kaset.
• LAO (Left Anterior Oblique) : arah sinar tegak lurus terhadap bidang kaset dimana bagian anterior kiri menempel atau dekat dengan bidang kaset.
• RPO (Right Posterior Oblique) : arah sinar tegak lurus terhadap bidang kaset dimana bagian posterior kanan menempel atau dekat dengan bidang kaset.
• LPO (Left Posterior Oblique) : arah sinar tegak lurus terhadap bidang kaset dimana bagian posterior kiri menempel atau dekat dengan bidang kaset.
• Dorsal Decubitus : pasien berbaring terlentang atau supine pada meja radiografi dengan arah sinar atau central ray horizontal terhadap lantai.
• Ventral Decubitus : pasien berbaring telungkup atau prone pada meja radiografi dengan arah sinar atau central ray horizontal terhadap lantai.
• Lateral Decubitus : lateral decubitus ada dua yaitu lateral Decubitus Kiri (LLD) dimana pasien berbaring pada sisi kiri dengan sisi kanan di atas, dan Lateral Decubitus Kanan (RLD) pasien berbaring pada sisi kanan dan bagian kiri di atas. Untuk central ray atau arah sinar horizontal terhadap lantai menembus pasien dari arah anterior ke posterior.
b. Posisi pasien adalah posisi pasien secara keseluruhan pada saat di lakukan pemeriksaan dengan menggunakan sinar-x atau pada saat dilakukan eksposi (pengambilan gambar). Adapun posisi pasien saat melakukan eksposi atau pengambilan gambar dalam pemeriksaan radiografi antara lain :
• Up Right : posisi pasien berdiri atau searah dengan garis vertical.
• Recumbent : posisi pasien tidur dengan beberapa posisi.
1. Prone : posisi pasien tidur telungkup.
2. Supine : posisi pasien tidur tengadah.
3. Lateral : posisi pasien tidur miring tegak lurus dengan kaset.
• Tendelendburg : posisi pasien tidur dimana kaki lebih tinggi dari kepala.
• Powler : posisi pasien tidur dimana posisi kaki lebih rendah dari kepala.
• Litotomy : posisi pasien tidur seperti orang melahirkan.
c. Posisi objek adalah posisi pasien pada sebagian tubuh pada saat di lakukan pemeriksaan dengan menggunakan sinar-x atau pada saat dilakukan eksposi (pengambilan gambar). Adapun posisi objek saat melakukan eksposi atau pengambilan gambar dalam pemeriksaan radiografi antara lain :
• Fleksio : gerakan melipat sendi.
• Ekstensio : gerakan membuka sendi.
• Endorotasi : gerakan memutar ke dalam.
• Eksorotasi : gerakan memutar ke luar.
• Adduksi : gerakan merapat ke tubuh.
• Abduksi : gerakan menjauh dari tubuh.
• Eversion : gerakan memutar ke luar atau lateral
• Inversion : gerakan memutar ke dalam atau medial
• Inspirasi : gerakan menarik nafas.
• Ekspirasi : gerakan mengeluarkan nafas.

4.2 SARAN
Berdasarkan kesimpulan di atas maka dalam penulisan ini penulis dapat memberikan saran – saran demi kesempurnaan dalam penulisan makalah ini yaitu perlu ditambahkan dengan literature-literatur dan sarana pendukung yang berhubungan dengan Teknik Radiografi Dasar I dan gambar-gambar yang merupakan materi dalam pembahasan dalam makalah ini yaitu tentang proyeksi, posisi pasien dan posisi objek dalam pemeriksaan radiografi.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Radiographic Anatomy and Positioning Terminology.

Evelyn C. Pearce, (2004), Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, Penerbit PT. Gramedia, Jakarta

Frank Long Smith, Merrill’s Atlas of Radiographic Positioning and Procedures, Edition 11, volume 1, Mosby Elsevier

Noer Sulistijaningsih, (1992), Sistem Radiologi Dasar Organisasi Kesehatan Dunia : Atlas Teknik Radiografi, EGC, Cetakan I, Jakarta.

P.E.S. Palmer (1995), Manual of Radiographic Interpretation for General Pracftitioners, Penerbit : EGC, Cetakan IV, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: